Mencetak Generasi Santri Berjiwa Wirausaha

Mencetak Generasi Santri Berjiwa Wirausaha

Kamis, 24 Oktober 2019, Oktober 24, 2019
Sri Handayani, pengusaha asal Pati yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren.
Kota - Menghadapi tantangan global, peran pesantren dinilai mampu berkontribusi dalam peningkatan daya saing ekonomi nasional. Hal itu diungkapkan Sri Handayani, pengusaha asal Pati yang mempunyai latar belakang santri saat memeperingati Hari Santri 2019 yang jatuh pada 22 Oktober ini.

Pati sebagai salah satu basis pesantren, kata Sri Handayani, bisa menyumbang peran untuk itu. Ditegaskan, sudah saatnya santri dibekali jiwa kewirausahaan dan pendampingan keterampilan agar bisa menjadi pengusaha tangguh.

Diceritakan, sejarah Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur sejati dan wirausahawan yang sukses. Keteladanan beliau dalam menggeluti usaha perdagangan menjadi bisa contoh para sahabat dalam berwirausaha.

Pada usia muda yakni 12 tahun, Nabi Muhammad sudah melakukan perdagangan regional ke Syria. Selanjutnya pada usia 17 tahun, memimpin ekspedisi perdagangan ke Syam, Yaman, Yordania, Irak, dan sejumlah negara lainnya. "Sedangkan pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad sudah menjadi wirausahawan yang sukses dan kaya raya," sambung wanita yang akrab disapa Ning Sri ini.

Sri Handayani juga menjelaskan, empat sifat Nabi Muhammad dalam berwirausaha. Yaitu Shiddiq atau Jujur, amanah atau dipercaya, fathonah atau cerdas hingga tabligh atau komunikatif.

"Shidiq atau jujur yaitu mengatakan yang sebenarnya mengenai barang yang diperjualbelikan. Terkait kelebihan dan kekurangan barang," jelas wanita yang saat ini sedang menyelesaikan program doktoral Ilmu Ekonomi, Undip Semarang itu.

Selanjutnya, jujur atau shiddiq yaitu perdagangan yang didasari sifat amanah akan berbuah berkah. Baik bagi penjual, pembeli, keluarga dan semua yang terlibat di dalamnya. Kredibilitas pengusaha sangat ditentukan pada sifat amanah yang dimilikinya.

"Sementara fathonah yaitu mampu memahami, menghayati, mengenal tugas dan tanggung jawab bisnis dengan sangat baik.
Menumbuhkan kreativitas dan melakukan berbagai inovasi yang bermanfaat agar produk perusahaan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat, permintaan pasar dan pola perubahan yang terjadi," kata Ning Sri.

Selanjutnya, wanita yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren Kajen, Margoyoso ini menyebut, pengusaha harus mempunyai sifat tabligh atau komunikatif. Menurutnya, seorang pengusaha dituntut untuk melatih diri dalam menyampaikan profil bisnisnya. Menyampaikan dengan cara yang paling baik, efisien dan efektif.
Mampu menggunakan jaringan dengan baik.

"Dan juga yang perlu diperhatikan yaitu membangun tim kerja yang tangguh dan menjaga kepercayaan relasi bisnis. Jangan sampai dilupakan untuk rajin bersedekah dan berinfak. Kalau perlu jadikan sedekah sebagai gaya hidup," tutupnya. (*kj)

TerPopuler